Ini adalah tempat curahan perasaan, pemikiran dan kekagumanku akan segala hal di sekelilingku.
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts
Monday, August 17, 2015
Selamat Ulang Tahun Indonesiaku
Tujuh puluh tahun sudah Indonesiaku merdeka. Aku sangat bangga menjadi anak negeri ini. Negeri yang memiliki wilayah geografis yang luas dengan ribuan pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Negeri yang kaya akan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang cerdas. Negeri dengan keindahan alam yang tiada tara. Negeri dengan keragaman budaya dan agama terbesar di dunia.
Memang negeriku belumlah menjadi negeri yang sangat makmur, juga bukan negeri adidaya tapi aku tetap bangga. Memang bangsaku bukan bangsa tercerdas,juga bukan bangsa paling jenius tapi aku tahu ada banyak orang cerdas di negeriku. Memang negeriku belum menjadi negeri yang sangat maju, juga bukan negeri yang paling terkemuka tapi negeriku cukup diperhitungkan dunia.
Bangsaku juga bangsa yang menorehkan prestasi tingkat dunia. Nama-nama harum juga tercatat sebagai anak-anak negeri yang berprestasi dan terkemuka. Nama-nama yang membanggakan dengan karya dan pemikirian mereka. Habibie salah satunya.
Meski begitu banyak kebanggaan sebagai anak negeri ini, aku juga prihatin dengan perkembangan yang ada. Anak-anak negeri yang cerdas makin sibuk mengorek perbedaan, membuat resah dalam ketenangan, serta gemar mengungkap aib bangsa sendiri dan bukan malah membantu mencari solusi.
Sungguh menyedihkan melihat bangsa ini disuguhi tontonan yang kebanyakan berisi gurauan dalam pelecehan, kelicikan, serta kemunafikan, bukan tontonan yang memperluas wawasan berpikir akan kemajuan. Seolah negeri ini akan dijadikan negeri dengan generasi pelawak yang hanya bisa menertawakan kekurangan orang lain.
Anak-anak muda negeri ini perlu menyadari bahwa negeri ini butuh generasi muda yang handal dan giat belajar. Bukan hanya sibuk memainkan permainan elektronik sepanjang waktu. Bukan hanya bergiat dalam obrolan dan sosialisasi di dunia maya. Dan juga bukan hanya sibuk berfoto selfie.
Mari kita tanya diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa berkarya sebagai anak-anak negeri ini? Bagaimana kita bisa membuat sumberdaya yang berlimpah ini menjadi kekuatan ekonomi dan politik negeri ini? Mari kita berpikir sejenak. Hidup ini tak hanya sekedar gurauan dan permainan.
Saturday, March 16, 2013
Teknologi Mengejar Mimpi
Bangun pagi-pagi lihat timeline salah satunya tentang perkembangan teknologi. Lagi-lagi teknologi sudah melangkah lagi. Sepertinya bukan melangkah tapi berlari. Baru beberapa waktu lalu mengidam-idamkan sebuah perangkat genggam, sekarang sudah muncul yang lebih baru lagi. Yang lama sudah terasa jauh tertinggal.
Mengikuti teknologi seakan tak ada habisnya. Memang sudah semestinya kemajuan teknologi itu tiada henti bahkan selalu membutuhkan inovasi-inovasi yang bisa meningkatkan kwalitas hidup manusia. Sudah seharusnya demikian.
Masih ingat dulu waktu membeli perangkat komputer 17 tahun lalu dengan harga tertentu. Sekarang dengan harga yang sama spesifikasi prosesornya yang sekarang sudah lebih dari 20 kali lipat dibanding yang itu. Media penyimpanannya sekarang sudah hampir 500 kali lipatnya.
Ponsel pertama yang kubeli cuma bisa menelpon bahkan tidak bisa SMS karena keterbatasan teknologi AMPS kala itu. Dengan harga yang sama, sekarang bisa beli ponsel yang punya berbagai fasilitas canggih. Meski ponsel kelas bawah tapi sudah memiliki kamera yang lumayan, gps, koneksi HSDPA di samping jenis konektifitas lainnya.
Sembilan tahun lalu saya membayangkan punya perangkat dengan layar besar supaya mudah membaca buku elektronik karena kala itu PDA hanya berlayar 4 inchi lebih sedikit. Sekarang hal itu bukan hal yang aneh dilihat.
Teknologi seolah berlari mengejar mimpi manusia. Tinggallah kemampuan kita membelinya yang juga harus bisa mengejarnya.
Mengikuti teknologi seakan tak ada habisnya. Memang sudah semestinya kemajuan teknologi itu tiada henti bahkan selalu membutuhkan inovasi-inovasi yang bisa meningkatkan kwalitas hidup manusia. Sudah seharusnya demikian.
Masih ingat dulu waktu membeli perangkat komputer 17 tahun lalu dengan harga tertentu. Sekarang dengan harga yang sama spesifikasi prosesornya yang sekarang sudah lebih dari 20 kali lipat dibanding yang itu. Media penyimpanannya sekarang sudah hampir 500 kali lipatnya.
Ponsel pertama yang kubeli cuma bisa menelpon bahkan tidak bisa SMS karena keterbatasan teknologi AMPS kala itu. Dengan harga yang sama, sekarang bisa beli ponsel yang punya berbagai fasilitas canggih. Meski ponsel kelas bawah tapi sudah memiliki kamera yang lumayan, gps, koneksi HSDPA di samping jenis konektifitas lainnya.
Sembilan tahun lalu saya membayangkan punya perangkat dengan layar besar supaya mudah membaca buku elektronik karena kala itu PDA hanya berlayar 4 inchi lebih sedikit. Sekarang hal itu bukan hal yang aneh dilihat.
Teknologi seolah berlari mengejar mimpi manusia. Tinggallah kemampuan kita membelinya yang juga harus bisa mengejarnya.
Wednesday, September 05, 2012
Hempasan dari lompatan
Sebuah lompatan akan menimbulkan hempasan pada saat kita mendarat..bisa jadi kita mendarat dengan mantap tapi tetap saja tubuh kita merasakan dampaknya yang bisa mengagetkan bahkan menyakitkan.Apalagi kalau kita tergelincir saat mendarat. Dampaknya bisa lebih menyakitkan. Jika kita tidak siap dengan lompatan, berjalan selangkah demi selangkah mungkin dampaknya akan lebih ringan.
Hidup tidak selalu mudah untuk dijalani. Selalu saja ada irama naik dan turun yang amplitudonya bisa berbeda pada setiap orang. Kadang naik turunnya hanya bagai riak gelombang tenang namun kadang bagai laut yang sedang dihantam tsunami. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Keadaan dapat membuat kita melakukan perubahan. Setiap perubahan akan berdampak pada yang mengalaminya. Bisa jadi kita kaget dengan kondisi yang menyenangkan namun bisa jadi prosesnya melelahkan bahkan menyakitkan.
Siapkanlah pikiran dan perasaan kita dalam menjalani perubahan baik perubahan yang kita lakukan dengan lompatan atau selangkah demi selangkah. Berharaplah sepantasnya karena berharap pun punya konsekuensi. Jika yang terjadi sesuai dengan harapan kita maka kita akan senang menghadapinya namun tidak demikian dengan sebaliknya. Jangan pernah berharap jika takut kecewa karena itulah risiko dan konsekuensinya.
Saturday, July 10, 2010
Antara Keprihatinan dan Kenyataan
Ketika duduk merenung, seringkali terbersit pikiran tentang kenyataan yang ada dalam pendidikan Indonesia, khususnya di Palembang. Sebagai pendidik, ada rasa prihatin mengamati fenomena ini. Suatu fenomena di mana pendidikan tampaknya merupakan sesuatu yang seringkali diprioritaskan oleh orang tua tapi dari sisi peserta didiknya sendiri menjalankan prosesnya (secara umum) belum dengan cara yang sesuai dan mendapatkan hasil yang menggembirakan. Seakan-akan menjalani pendidikan hanya rutinitas yang kurang jelas arahnya.
Wednesday, April 21, 2010
Kartini dalam kenangan
Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia...Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia...
Perjuangan beliau mencerdaskan kaum perempuan kini telah terwujud. Mayoritas perempuan kini telah berpendidikan bahkan sampai ke tingkat pendidikan tinggi. Sudah cukup banyak profesor perempuan di negeri ini.
Kaum perempuan patut bersyukur atas perjuangan beliau. Cita-cita luhur itu kini telah berbuah manis. Tapi selalu ada dua sisi dalam segala hal. Cukup banyak kaum perempuan yang karena pendidikannya yang tinggi, yang karena karirnya yang cemerlang, yang melupakan kodratnya sebagai pendamping suami dan guru bagi anak-anak mereka.
Banyak perempuan yang meninggalkan urusan rumah tangga pada orang lain demi karir yang mereka lakoni. Urusan karir tak jarang menjadi nomor satu dan keharmonisan keluarga menjadi tersisihkan dari prioritas. Anak-anaknya cuma bisa berkumpul dalam arti yang sebenarnya dengan ibu mereka di akhir minggu. Itu pun kalau tidak diinterupsi oleh segala pekerjaan rumah dari kantor dan acara-acara pribadi sang ibu.
Wahai perempuan...suami dan anakmu merindukan dirimu sebagai pilar kokoh dalam rumah. Kalian menjadi guru dan sumber keteduhan dalam rumah tangga.
Perjuangan beliau mencerdaskan kaum perempuan kini telah terwujud. Mayoritas perempuan kini telah berpendidikan bahkan sampai ke tingkat pendidikan tinggi. Sudah cukup banyak profesor perempuan di negeri ini.
Kaum perempuan patut bersyukur atas perjuangan beliau. Cita-cita luhur itu kini telah berbuah manis. Tapi selalu ada dua sisi dalam segala hal. Cukup banyak kaum perempuan yang karena pendidikannya yang tinggi, yang karena karirnya yang cemerlang, yang melupakan kodratnya sebagai pendamping suami dan guru bagi anak-anak mereka.
Banyak perempuan yang meninggalkan urusan rumah tangga pada orang lain demi karir yang mereka lakoni. Urusan karir tak jarang menjadi nomor satu dan keharmonisan keluarga menjadi tersisihkan dari prioritas. Anak-anaknya cuma bisa berkumpul dalam arti yang sebenarnya dengan ibu mereka di akhir minggu. Itu pun kalau tidak diinterupsi oleh segala pekerjaan rumah dari kantor dan acara-acara pribadi sang ibu.
Wahai perempuan...suami dan anakmu merindukan dirimu sebagai pilar kokoh dalam rumah. Kalian menjadi guru dan sumber keteduhan dalam rumah tangga.
Monday, February 22, 2010
Publikasi sebagai bentuk ekpresi diri
"Semakin banyak orang narsis di dunia ini." Begitukah? Pernyataan singkat itu mungkin bisa membuat orang tersenyum mendengarnya atau justru marah. Entah apa arti senyum itu, mungkin membenarkan dalam hati. Marah mungkin jika merasa tersindir karena dianggap narsis.
Kalau kita cermati, semakin banyak layanan terhubung (online) yang tergolong dalam jejaring sosial (social network). Sebutlah Frindster, Hi5, Facebook, Twitter, dan lain-lain yang memang ditujukan untuk membangun jejaring sosial. Beberapa waktu lalu Google memberikan layanan baru yaitu Google Buzz yang memungkinkan untuk saling berbagi konten bahkan dengan cara mengintegrasikan berbagai situs yang Anda gunakan seperti Twitter, Picasa, Flickr, dan Google Pustaka.
Kalau kita cermati, semakin banyak layanan terhubung (online) yang tergolong dalam jejaring sosial (social network). Sebutlah Frindster, Hi5, Facebook, Twitter, dan lain-lain yang memang ditujukan untuk membangun jejaring sosial. Beberapa waktu lalu Google memberikan layanan baru yaitu Google Buzz yang memungkinkan untuk saling berbagi konten bahkan dengan cara mengintegrasikan berbagai situs yang Anda gunakan seperti Twitter, Picasa, Flickr, dan Google Pustaka.
Saturday, June 20, 2009
Seminar Public Speaking
Tadi pagi sekitar jam 9, kami mengikuti seminar Public Speaking di Selebrity. Mulanya antusias ingin tahu kiat-kiat menjadi public speaker yang baik tapi kok jadi mengantuk di tengah-tengah acara. Charles Bonar Sirait, sang pembicara, membawakannya lumayan baik namun terasa ada bias ketika di bagian akhir Beliau memadukan public speaking dengan empat kepribadian. Beliau kurang berhasil menarik benang merah antara kedua hal tersebut.
Seminar tadi terasa kurang ditangani secara profesional. Ada beberapa masalah teknis yang cukup mengganggu seperti operator slideshow-nya yang tersendat-sendat dan terkesan kurang teknis serta operator lampu yang tidak hafal tombol dan posisi lampu-lampu. Jalannya seminar menjadi kurang mulus. Kurang terasa kesan yang tertinggal kecuali jadi ingat dengan buku "Personality Plus".
Seminar tadi terasa kurang ditangani secara profesional. Ada beberapa masalah teknis yang cukup mengganggu seperti operator slideshow-nya yang tersendat-sendat dan terkesan kurang teknis serta operator lampu yang tidak hafal tombol dan posisi lampu-lampu. Jalannya seminar menjadi kurang mulus. Kurang terasa kesan yang tertinggal kecuali jadi ingat dengan buku "Personality Plus".
Monday, June 13, 2005
Ego diri, Persembunyian, atau Eksklusifitas
Para praktisi, akademisi, atau sekedar pengguna teknologi informasi biasa kerap kali menggunakan istilah-istilah teknis berbahasa Inggris yang kerap kali membingungkan orang 'awam'. Tak jarang, orang yang tidak mengerti istilah-istilah ini disebut sebagai gaptek, ketinggalan jaman, atau mengalami kesenjangan digital (digital divide). Dalam kesempatan bicara di muka umum, seminar misalnya, bahasa campuran Inggris-Indonesia pun sering digunakan. Semakin bingunglah orang awam. Ditambah lagi dengan pelafalan kata-kata Inggris yang 'kurang pas'.
Nampaknya kurang afdol jika tidak menggunakan istilah-istilah tersebut dan mau tidak mau memang mesti digunakan. Seakan tidak ada cara lain yang bisa ditempuh untuk mendidik masyarakat umum tentang teknologi informasi. Saya pernah membaca pengalaman seorang teman yang berbicara pada sebuah seminar TI yang hadirinnya adalah para siswa SMU. Para hadirin nampak tanpa ekspresi mendengarkan apa yang beliau sampaikan. Tak heran kalau hal itu terjadi. Memang harus kita akui bahwa komunitas TI seolah kamu eksklusif dengan segala jargon-nya.
Nampaknya kurang afdol jika tidak menggunakan istilah-istilah tersebut dan mau tidak mau memang mesti digunakan. Seakan tidak ada cara lain yang bisa ditempuh untuk mendidik masyarakat umum tentang teknologi informasi. Saya pernah membaca pengalaman seorang teman yang berbicara pada sebuah seminar TI yang hadirinnya adalah para siswa SMU. Para hadirin nampak tanpa ekspresi mendengarkan apa yang beliau sampaikan. Tak heran kalau hal itu terjadi. Memang harus kita akui bahwa komunitas TI seolah kamu eksklusif dengan segala jargon-nya.
Sunday, May 29, 2005
A Cup of Java
Secangkir kopi merupakan hidangan ringan yang sangat umum di beberapa belahan dunia, baik dalam jamuan resmi atau sekedar duduk santai di bale-bale bambu. Bagi sebagian orang, secangkir kopi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari acara ngobrol.
Mungkin anda sudah tahu kalau di luar negeri secangkir copy kerap disebut a cup of java. Saya tidak tahu persis apakah mereka menyebutnya demikian karena kopinya sebagian berasal dari Jawa. Tapi yang terang memang ada kaitannya dengan kopi dari Jawa.
Kalau kita mencari di internet frase "a cup of java" maka mesin pencari mengaitkannya dengan bahasa pemrograman Java. Bahasa ini pun dinamakan demikian setelah tim pengembangnya pada suatu ketika membicarakan tentang penggantian nama bahasa tersebut di kedai kopi (coffee shop). Nama bahasa pemrograman itupun akhirnya diubah dari yang semula bernama Oak. Bagi sebagian orang ini terdengar aneh. Yah, kadang-kadang memang orang memilih nama dengan cara yang aneh. Saya pun bertanya-tanya dalam hati tentang asal usul nama bahasa C. Ternyata bahasa itu kelanjutan dari bahasa B.
Secangkir kopi tak jarang menjadi teman mencari inspirasi atau bahkan sumber inspirasi itu sendiri.
Mungkin anda sudah tahu kalau di luar negeri secangkir copy kerap disebut a cup of java. Saya tidak tahu persis apakah mereka menyebutnya demikian karena kopinya sebagian berasal dari Jawa. Tapi yang terang memang ada kaitannya dengan kopi dari Jawa.
Kalau kita mencari di internet frase "a cup of java" maka mesin pencari mengaitkannya dengan bahasa pemrograman Java. Bahasa ini pun dinamakan demikian setelah tim pengembangnya pada suatu ketika membicarakan tentang penggantian nama bahasa tersebut di kedai kopi (coffee shop). Nama bahasa pemrograman itupun akhirnya diubah dari yang semula bernama Oak. Bagi sebagian orang ini terdengar aneh. Yah, kadang-kadang memang orang memilih nama dengan cara yang aneh. Saya pun bertanya-tanya dalam hati tentang asal usul nama bahasa C. Ternyata bahasa itu kelanjutan dari bahasa B.
Secangkir kopi tak jarang menjadi teman mencari inspirasi atau bahkan sumber inspirasi itu sendiri.
Monday, May 09, 2005
Bahasa Indonesia 'Tabrak Lari'
Tulisan ini bukan hujatan, bukan pula kecaman, hanya sebuah kesedihan
akan fenomena berbahasa yang menurut saya menyedihkan dan kerap menjadi bahan pemikiran saya. Dalam tulisan ini pula, saya tidak ingin menyalahkan siapapun, hanya mengungkapkan fenomena dan butuh masukan, apa yang perlu dibenahi bersama.
Saya selalu mengamati perkembangan bahasa Indonesia terutama masalah kosa kata yang berasal dari bahasa asing, meski banyak juga yang luput dari perhatian saya karena saya bukan praktisi bahasa. Dari dulu saya tertarik dengan bahasa namun tidak terlalu berminat untuk menjadikan bahasa sebagai pilihan bidang profesi. Bahasa saya anggap sebagai salah satu alat utama untuk berkomunikasi dan komunikasi ini mutlak terjadi dalam bidang profesi apapun.
Fenomena yang terjadi di masyarakat kita adalah penggunaan bahasa yang menurut saya kurang cermat. Penggunaan kata asing yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia mestinya bisa dihindari. Di berbagai bidang ilmu ini kerap terjadi. Yang paling sering adalah pada bidang teknologi dan ekonomi. Dalam tulisan ini saya ingin membahas yang berkenaan dengan bidang teknologi khususnya teknologi informasi.
Dalam konteks teknologi informasi, banyak sekali kata-kata Inggris yang sering kita ucapkan dalam penggunaan sehari-hari, meskipun cukup banyak di antaranya yang sudah ada padanan bahasa Indonesianya. Tidak digunakannya bentuk padanan Indonesianya ini, menurut saya, disebabkan dua faktor utama: (1) ketidaktahuan akan padanan tersebut dan (2) keengganan menggunakannya karena berbagai alasan. Faktor yang pertama disebabkan tidak adanya akses ke sumber padanan istilah. Penyebab ini semestinya bisa diatasi jika mau mencari sumber tersebut. Faktor yang kedua memiliki berbagai alasan di antaranya: (1) merasa canggung dengan istilah yang diindonesiakan karena memang sebagian tidak umum digunakan dan (2) merasa istilah dalam bahasa Inggrisnya lebih 'keren' diucapkan. Mestinya kita tidak perlu canggung menggunakan istilah dalam bahasa Indonesia. Jika bukan kita, siapa lagi? Apakah kita menunggu orang asing yang menggunakannya?
Dalam Panduan Pembakuan Istilah, Pelaksanaan Instruksi Presiden No. 2 tahun 2001 tentang Penggunaan Komputer Dengan Aplikasi Komputer Berbahasa Indonesia(sumber:http://vlsm.org/etc/baku-0.txt), terdapat senarai padanan istilah yang bisa kita gunakan. Meskipun ada beberapa hal yang perlu kita cermati bersama, misalnya:
1. cache memory padanannya memori tembolok, memori singgahan
catatan: ada dua padanan, mengapa tidak ditetapkan salah satu saja? Jika memang ada dua penafsiran untuk dua kondisi yang berbeda tentu tidak jadi masalah
2. IP (identification personal) address padanannya alamat PI (personal
identifikasi)
catatan: setahu saya, IP merupakan singkatan dari Internet Protocol dan mestinya diterjemahkan sebagai Protokol Internet.
Terlepas dari beberapa permasalahan tersebut (dua di antaranya saya kutip dan beri catatan di atas), sebagian besar padanan istilah tersebut bisa kita gunakan. Tetapi memang menggunakannya gampang-gampang susah karena istilah komputer lebih akrab versi Inggrisnya untuk didengar. Sebagai contoh, saya pernah meminta kertas pada seseorang untuk mencetak suatu berkas. "Bisa minta kertas? Saya mau mencetak..." kata saya pada orang tersebut (maaf, ada bagian yang disamarkan menyangkut masalah etika karena ini kisah nyata)."Nyetak?" melihat dia bertanya balik dengan muka bingung maka saya katakan "Ngeprint". "O, ngeprint, kenapa bapak nggak bilang dari tadi?" katanya sambil tersenyum dan memberikan beberapa lembar kertas. Ternyata bagi orang tersebut istilah "ngeprint" lebih bermakna konotatif daripada "mencetak" untuk kasus mencetak dari komputer. Dalam bahasa lisan, kata "ngeprint" tersebut tidak salah namun ada baiknya kita membiasakan menggunakan padanannya.
Ada satu lagi fenomena kekurangcermatan berbahasa yang menurut istilah saya adalah "bahasa tabrak lari". Fenomena yang saya maksudkan adalah mencampuradukkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia baik dalam bahasa lisan maupun tulisan. Fenomena ini kerap terjadi baik pada forum formal maupun non formal. Bahkan, dalam tatap muka kegiatan berlajar mengajar di perguruan tinggipun hal ini kerap terjadi. Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam konteks teknologi informasi.
Masyarakat umum cenderung untuk mencontoh dalam berbahasa. Apa yang didengar dan dibaca dari buku dan media massa biasanya ditiru. Mestinya kondisi ini bisa dimanfaatkan para penulis buku dan artikel di media cetak untuk mendidik masyarakat dalam penggunaan istilah ini. Jika istilah tersebut sering dibaca, tentu tidak akan menjadi sesuatu yang asing lagi. Sebagai contoh ketika istilah "privatisasi" muncul dan media massa memuatnya dalam berita di media elektronik dan cetak, dalam waktu sebentar saja istilah itu sudah akrab terdengar. Padahal, sebelumnya sudah ada istilah "swastanisasi" yang memiliki arti yang sama (dan terlupakan?). Coba bayangkan betapa media massa bisa menjadi media sosialisasi yang ampuh.
Dari pengamatan saya akan beberapa majalah dan tabloid yang isinya tentang teknologi informasi, sebagian besar masih menggunakan istilah komputer dalam bahasa Inggris. Namun ada salah satu tabloid yang nampaknya berusaha keras untuk menggunakan istilah dalam bahasa Indonesia. Ada juga yang menggunakan istilah yang umum digunakan dalam bahasa Indonesia dan menggunakan istilah Inggris untuk yang tidak umum.
Istilah yang sering digunakan secara salah adalah kata peranti. Seringkali istilah ini digunakan dalam "peranti lunak" dan "peranti keras", mestinya "perangkat lunak" dan "perangkat keras". Kata peranti menurut hemat saya adalah padanan dari kata "device".
Siapakah atau lembaga apakah yang semestinya berperan dalam mensosialisasikan istilah-istilah ini? Pusat bahasa, media massa, perguruan tinggi, atau kita semua? Silahkan anda komentari tulisan ini.
akan fenomena berbahasa yang menurut saya menyedihkan dan kerap menjadi bahan pemikiran saya. Dalam tulisan ini pula, saya tidak ingin menyalahkan siapapun, hanya mengungkapkan fenomena dan butuh masukan, apa yang perlu dibenahi bersama.
Saya selalu mengamati perkembangan bahasa Indonesia terutama masalah kosa kata yang berasal dari bahasa asing, meski banyak juga yang luput dari perhatian saya karena saya bukan praktisi bahasa. Dari dulu saya tertarik dengan bahasa namun tidak terlalu berminat untuk menjadikan bahasa sebagai pilihan bidang profesi. Bahasa saya anggap sebagai salah satu alat utama untuk berkomunikasi dan komunikasi ini mutlak terjadi dalam bidang profesi apapun.
Fenomena yang terjadi di masyarakat kita adalah penggunaan bahasa yang menurut saya kurang cermat. Penggunaan kata asing yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia mestinya bisa dihindari. Di berbagai bidang ilmu ini kerap terjadi. Yang paling sering adalah pada bidang teknologi dan ekonomi. Dalam tulisan ini saya ingin membahas yang berkenaan dengan bidang teknologi khususnya teknologi informasi.
Dalam konteks teknologi informasi, banyak sekali kata-kata Inggris yang sering kita ucapkan dalam penggunaan sehari-hari, meskipun cukup banyak di antaranya yang sudah ada padanan bahasa Indonesianya. Tidak digunakannya bentuk padanan Indonesianya ini, menurut saya, disebabkan dua faktor utama: (1) ketidaktahuan akan padanan tersebut dan (2) keengganan menggunakannya karena berbagai alasan. Faktor yang pertama disebabkan tidak adanya akses ke sumber padanan istilah. Penyebab ini semestinya bisa diatasi jika mau mencari sumber tersebut. Faktor yang kedua memiliki berbagai alasan di antaranya: (1) merasa canggung dengan istilah yang diindonesiakan karena memang sebagian tidak umum digunakan dan (2) merasa istilah dalam bahasa Inggrisnya lebih 'keren' diucapkan. Mestinya kita tidak perlu canggung menggunakan istilah dalam bahasa Indonesia. Jika bukan kita, siapa lagi? Apakah kita menunggu orang asing yang menggunakannya?
Dalam Panduan Pembakuan Istilah, Pelaksanaan Instruksi Presiden No. 2 tahun 2001 tentang Penggunaan Komputer Dengan Aplikasi Komputer Berbahasa Indonesia(sumber:http://vlsm.org/etc/baku-0.txt), terdapat senarai padanan istilah yang bisa kita gunakan. Meskipun ada beberapa hal yang perlu kita cermati bersama, misalnya:
1. cache memory padanannya memori tembolok, memori singgahan
catatan: ada dua padanan, mengapa tidak ditetapkan salah satu saja? Jika memang ada dua penafsiran untuk dua kondisi yang berbeda tentu tidak jadi masalah
2. IP (identification personal) address padanannya alamat PI (personal
identifikasi)
catatan: setahu saya, IP merupakan singkatan dari Internet Protocol dan mestinya diterjemahkan sebagai Protokol Internet.
Terlepas dari beberapa permasalahan tersebut (dua di antaranya saya kutip dan beri catatan di atas), sebagian besar padanan istilah tersebut bisa kita gunakan. Tetapi memang menggunakannya gampang-gampang susah karena istilah komputer lebih akrab versi Inggrisnya untuk didengar. Sebagai contoh, saya pernah meminta kertas pada seseorang untuk mencetak suatu berkas. "Bisa minta kertas? Saya mau mencetak..." kata saya pada orang tersebut (maaf, ada bagian yang disamarkan menyangkut masalah etika karena ini kisah nyata)."Nyetak?" melihat dia bertanya balik dengan muka bingung maka saya katakan "Ngeprint". "O, ngeprint, kenapa bapak nggak bilang dari tadi?" katanya sambil tersenyum dan memberikan beberapa lembar kertas. Ternyata bagi orang tersebut istilah "ngeprint" lebih bermakna konotatif daripada "mencetak" untuk kasus mencetak dari komputer. Dalam bahasa lisan, kata "ngeprint" tersebut tidak salah namun ada baiknya kita membiasakan menggunakan padanannya.
Ada satu lagi fenomena kekurangcermatan berbahasa yang menurut istilah saya adalah "bahasa tabrak lari". Fenomena yang saya maksudkan adalah mencampuradukkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia baik dalam bahasa lisan maupun tulisan. Fenomena ini kerap terjadi baik pada forum formal maupun non formal. Bahkan, dalam tatap muka kegiatan berlajar mengajar di perguruan tinggipun hal ini kerap terjadi. Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam konteks teknologi informasi.
Masyarakat umum cenderung untuk mencontoh dalam berbahasa. Apa yang didengar dan dibaca dari buku dan media massa biasanya ditiru. Mestinya kondisi ini bisa dimanfaatkan para penulis buku dan artikel di media cetak untuk mendidik masyarakat dalam penggunaan istilah ini. Jika istilah tersebut sering dibaca, tentu tidak akan menjadi sesuatu yang asing lagi. Sebagai contoh ketika istilah "privatisasi" muncul dan media massa memuatnya dalam berita di media elektronik dan cetak, dalam waktu sebentar saja istilah itu sudah akrab terdengar. Padahal, sebelumnya sudah ada istilah "swastanisasi" yang memiliki arti yang sama (dan terlupakan?). Coba bayangkan betapa media massa bisa menjadi media sosialisasi yang ampuh.
Dari pengamatan saya akan beberapa majalah dan tabloid yang isinya tentang teknologi informasi, sebagian besar masih menggunakan istilah komputer dalam bahasa Inggris. Namun ada salah satu tabloid yang nampaknya berusaha keras untuk menggunakan istilah dalam bahasa Indonesia. Ada juga yang menggunakan istilah yang umum digunakan dalam bahasa Indonesia dan menggunakan istilah Inggris untuk yang tidak umum.
Istilah yang sering digunakan secara salah adalah kata peranti. Seringkali istilah ini digunakan dalam "peranti lunak" dan "peranti keras", mestinya "perangkat lunak" dan "perangkat keras". Kata peranti menurut hemat saya adalah padanan dari kata "device".
Siapakah atau lembaga apakah yang semestinya berperan dalam mensosialisasikan istilah-istilah ini? Pusat bahasa, media massa, perguruan tinggi, atau kita semua? Silahkan anda komentari tulisan ini.
Saturday, May 07, 2005
Sumberdaya Manusia TI
Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki jumlah penduduk yang cukup besar. Dengan demikian negara ini kaya akan potensi sumberdaya manusia di segala bidang. Tak terkecuali sumberdaya manusia di bidang teknologi informasi. Kalau kita perhatikan, berapa banyak pengguruan tinggi yang memiliki fakultas, jurusan, atau bahkan sekolah tinggi yang khusus untuk bidang TI. Begitu banyak lulusan dari perguruan tinggi tersebut setiap tahun bahkan setiap semesternya. Mulai dari gelar diploma, sarjana, master, maupun doktor bisa diperoleh di dalam negeri. Belum lagi sertifikasi berbagai bidang keahlian TI yang banyak tersedia.
Apakah orang Indonesia memiliki sumber daya TI yang memadai? Menurut saya, banyak sekali orang-orang TI yang bahkan memiliki kepakaran tertentu di negeri ini. Memang belum begitu mendunia seperti orang-orang India atau Cina. Tapi saya yakin, orang Indonesia pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Coba saja sambangi milis-milis berbau TI. Dari sana kita bisa menyimpulkan, meski tidak akurat, bahwa ternyata banyak orang Indonesia yang jago TI. Tinggal lagi masalah peluang dan kesempatan.
Suatu saat, sumberdaya manusia TI Indonesia pasti juga akan mendunia. Peran pemerintah juga sangat diperlukan untuk mendorong kemajuan dan pemberdayaan di bidang ini.
Apakah orang Indonesia memiliki sumber daya TI yang memadai? Menurut saya, banyak sekali orang-orang TI yang bahkan memiliki kepakaran tertentu di negeri ini. Memang belum begitu mendunia seperti orang-orang India atau Cina. Tapi saya yakin, orang Indonesia pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Coba saja sambangi milis-milis berbau TI. Dari sana kita bisa menyimpulkan, meski tidak akurat, bahwa ternyata banyak orang Indonesia yang jago TI. Tinggal lagi masalah peluang dan kesempatan.
Suatu saat, sumberdaya manusia TI Indonesia pasti juga akan mendunia. Peran pemerintah juga sangat diperlukan untuk mendorong kemajuan dan pemberdayaan di bidang ini.
Thursday, May 05, 2005
Lagu Bagus Dewa
Saya tahu ini bukan isu baru tapi baru bisa punya kesempatan menulis tentang ini. Beberapa minggu terakhir ini masalah logo Dewa dari album "Laskar Cinta" hampir setiap hari dibahas di hampir semua tv swasta di Indonesia. Pihak FPI menuding keras penggunaan logo yang diambil dari kaligrafi yang bertuliskan Allah dan dipakai di album tersebut serta atribut-atribut konser Dewa.
Dalam salah satu dialog di sebuah tv swasta, sang reporter mempertanyakan kepada salah satu perwakilan MUI yang diundang ke dialog tersebut tentang keputusan MUI yang mengijinkan penggunaan logo tersebut sedangkan lagu-lagu Dewa kebanyakan bertema cinta pada lawan jenis. Saya sependapat dengan sang reporter, jika memandang album Dewa secara keseluruhan. Namun jika kita batasi permasalahan, tentu tidak bijak memandang album Dewa secara keseluruhan karena yang dipermasalahkan adalah album 'Laskar Cinta'. Mungkin lebih bijak kalau yang ditinjau adalah lirik lagu dalam album tersebut saja karena logo yang dipermasalahkan adalah logo dari album tersebut.
Dalam salah satu dialog di sebuah tv swasta, sang reporter mempertanyakan kepada salah satu perwakilan MUI yang diundang ke dialog tersebut tentang keputusan MUI yang mengijinkan penggunaan logo tersebut sedangkan lagu-lagu Dewa kebanyakan bertema cinta pada lawan jenis. Saya sependapat dengan sang reporter, jika memandang album Dewa secara keseluruhan. Namun jika kita batasi permasalahan, tentu tidak bijak memandang album Dewa secara keseluruhan karena yang dipermasalahkan adalah album 'Laskar Cinta'. Mungkin lebih bijak kalau yang ditinjau adalah lirik lagu dalam album tersebut saja karena logo yang dipermasalahkan adalah logo dari album tersebut.
Subscribe to:
Posts (Atom)

