Sunday, June 23, 2019

HIPOKRIT

Malam bergulir ke dini hari
Gemerincing hujan seakan bernyanyi
Dunia terasa hening tak bertepi

Jemariku meski tak lentik menari


Tafakur aku dalam sebuah rasa
Kilau kilat bak lampu raksasa
Gelegar petir berteriak sangar
Sirna lenaku bertukar gusar

Kuatur nada dawai gitarku
Dentingan bergilir berlalu
Seribu dua puluh satu petikan
Jemariku semakin liar tak tertahan


Hening telah terbelah parauku
Seiring detik semakin sendu
Ujarkan keluhan akan fenomena
Tak terkira bila akan berlalunya


Jubah putihmu berkelebat melintas
Janggut panjangmu terurai kemas
Namun ujaranmu tak pernah merdu
Juga tatapmu tak sejukkan kalbu

Sunday, October 14, 2018

Kusayangi Kau dengan Caraku

Kau punya cara tersendiri dalam menyayangiku. Dulu aku bahkan menganggapmu tak menyayangiku. Yang sering kualami dari dulu sejak aku kecil, kau hampir setiap kesempatan menjagaku dalam agar berada dalam batas yang telah kau gariskan. Saat aku menyeberangi garis itu maka peringatan keras kau berikan padaku.

Aku tetaplah aku yang dulu dalam anggapanmu. Seorang anak yang jadi perhatianmu. Anak yang sejak kelas 1 SD sudah dipesan untuk jadi seorang sarjana. Dulu kau bilang padaku, jika hanya ada satu orang anakmu yang bisa jadi sarjana, kau ingin itu aku.

Bertahun-tahun dalam hidupku sejak kecil di pundakku ada sebuah tanggung jawab yang dulu kuanggap beban. Berkali-kali aku bertanya dalam hatiku, mengapa harus aku? Aku bukanlah anak sulung bahkan mendekati bungsu. Namun itu justru membuatku jadi berpikir dan bersikap lebih dewasa dari usiaku. Aku sudah punya cita-cita yang mantap sejak kelas 1 SD itu. Cita-cita yang benar-benar kuwujudkan dan sempat kujalani.

Sejak aku kecil mungkin tingkahku selalu memusingkan pikiranmu. Aku yang suka berpikir dan berjalan dengan caraku sendiri. Berkata dan bersikap sesuai dengan yang kuyakini. Untunglah pada batas-batas tertentu kau beri toleransi atas segala caraku itu. Kau dulu bilang aku keras kepala dan suka membuat alasan.

Kini aku sudah beranjak tua dan kau pun sudah sangat tua. Kau masih saja seperti dulu, suka ngambek bila aku sedikit terlambat datang saat kau panggil untuk menemuimu. Seperti hari ini juga. Aku cuma terlambat datang sepuluh menit dan ponselku sudah berbunyi saat dalam perjalanan ke rumahmu.

Selamat ulang tahun ke-81, mami. Maafkan aku yang tak pandai membuatmu tersenyum bangga. Terima kasih karena selalu menyayangiku dengan caramu dan aku membalasnya dengan caraku. Semoga Allah selalu menyayangimu dan memberimu kesehatan sepanjang usiamu.

Tuesday, February 27, 2018

Partitur Daun Jati

Kutarik busur biola
Menyayat dawai pilu terasa
Kadang menjerit ke ujung angkasa
Kadang menderum ke akar akasia
Nada-nada melesat bungkam
Mengoyak langit malam
Awan pun menangis tanpa isak
Burung-burung malam tak mengepak
Daun jati jadi partiturku
Rinai hujan jadi dawaiku
Desir angin jadi nada-nadaku
Air mata jadi biramaku
Tuhan entah apa sang rahasia
Tak terpecah analisis data
Membisu mengusik tanya
Tanpa angka, tanpa aksara
27 Feb. 2017

Sunday, March 12, 2017

Tips Mencari Lokasi Ponsel Anda Dengan Google

Ponsel Android Anda hilang? Atau mungkin Anda lupa meletakkannya di suatu tempat? Tahukah Anda bahwa mesin pencari Google bisa digunakan untuk mencari lokasi ponsel Android Anda?
Berikut ini adalah tips mudah menemukan lokasi ponsel Android Anda menggunakan mesin pencari Google.

Sunday, April 24, 2016

Nol Tanpa Satu

Ketika berbagai tanya muncul
Tingkahi kesendirian tanpa jawab
Pikiran terkuras mencari
Meski tetap tak terjawab

Kususun serpihan-serpihan daun
Mungkin bisa bentuk berbagai aksara
Yang menyusun kata-kata
Tuk bisa temukan jawaban

Darah yang mengalir di bulir-bulir otak
Berselancar dengan manis mengalir
Tapi hanya manuver tanpa hasil
Kembali ke siklus awal

Kukumpulkan seribu nol dan satu
Berbagai kombinasi dipasangkan
Beragam permutasi dikalkulasi
Tetap saja nol tanpa satu


Catatan:
Ternyata nyusun silabus itu gak mudah...

* 6 Maret 2011

Antara aku, kau, dan rembulan

Bulan naik seperempat
Kemilaunya emas menyala
Berjalanku bersamamu dalam hening
Berjarak satu hembusan napas
Detak jantung kita seirama
Mainkan melodi romansa
Kucoba tembus khayalmu
Kureka anganmu
Meski tanpa ujaran terucap
Aura kebersamaan menyatu
Beriringan kita membelah malam
Mengiris angin yang menghadang
Rembulan itu seolah betah menemani
Mengiringi jalan pikiran kita
Menghias segala rasa yang ada
Sejenak senyummu membelai tatapku
Membuai bahagiaku
Perlahan bayangmu menjauh
Kembali ke peraduanmu
Senyum itu tertinggal membekas
Jelas...tersimpan dalam tatap dan pikirku
Kuingin melihatnya lagi esok pagi


*15 Oktober 2011

Saturday, November 07, 2015

Tak Ada Ujar dan Tanpa Aksara

Kesejuta tujuh puluh kalinya kubertanya dalam keheningan
Akan sesuatu yang tak juga kumengerti
Ratusan kitab kubuka lembar demi lembar
Milyaran huruf kuteliti satu demi satu

Tuhan..aku hanyalah manusia biasa
Ku tak bisa mendengar jawabMu
Meski berkali-kali aku melontarkan pertanyaan
Setidaknya aku tak mampu menangkap isyarat

Seringkali kutafakur sambil bertanya dalam hati
Diselingi suara lirihku menyebut namaMu
Bertahun-tahun aku bersabar menanti jawaban
Karena aku hanyalah seorang hamba

Kini kulihat sebuah lukisan
Nampak jelas di mataku
Bisa kubaca goresan-goresannya
Kecuali makna di balik itu

Apakah kini aku mesti berhenti bertanya?
Inikah saatnya aku mencegat getar lidahku?
Haruskah kukatupkan bibirku?
Tak ada ujar dan tanpa aksara

Masih bermaknakah tanya itu sekarang?
Apakah lukisan itu sebuah jawaban?
Bantu aku memahami ini
Atau sekedar melupakan

Ingin kumenangis tersedu-sedu
Namun baru kuingat aku tak lagi punya air mata
Baiklah..biar kumenangis dalam hati
Tapi ternyata hatiku pun tlah tiada

Ingin kumelesat bagai elang di malam hari
Menebas-nebaskan sayapku di tepian awan
Kan ku koyak-koyak atmosfir
Melaungkan tanya tak terjawab

Aku pun jatuh bagai bulu elang mengambang
Pelan..perlahan..dan mendarat mulus di atas duri
Entah rasa sakit atau nikmat yang mendera
Lagi-lagi aku tak tahu ini semua apa...

7 November 2011

Monday, August 17, 2015

Selamat Ulang Tahun Indonesiaku


Tujuh puluh tahun sudah Indonesiaku merdeka. Aku sangat bangga menjadi anak negeri ini. Negeri yang memiliki wilayah geografis yang luas dengan ribuan pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Negeri yang kaya akan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang cerdas. Negeri dengan keindahan alam yang tiada tara. Negeri dengan keragaman budaya dan agama terbesar di dunia.

Memang negeriku belumlah menjadi negeri yang sangat makmur, juga bukan negeri adidaya tapi aku tetap bangga. Memang bangsaku bukan bangsa tercerdas,juga bukan bangsa paling jenius tapi aku tahu ada banyak orang cerdas di negeriku. Memang negeriku belum menjadi negeri yang sangat maju, juga bukan negeri yang paling terkemuka tapi negeriku cukup diperhitungkan dunia.

Bangsaku juga bangsa yang menorehkan prestasi tingkat dunia. Nama-nama harum juga tercatat sebagai anak-anak negeri yang berprestasi dan terkemuka. Nama-nama yang membanggakan dengan karya dan pemikirian mereka. Habibie salah satunya.

Meski begitu banyak kebanggaan sebagai anak negeri ini, aku juga prihatin dengan perkembangan yang ada. Anak-anak negeri yang cerdas makin sibuk mengorek perbedaan, membuat resah dalam ketenangan, serta gemar mengungkap aib bangsa sendiri dan bukan malah membantu mencari solusi.

Sungguh menyedihkan melihat bangsa ini disuguhi tontonan yang kebanyakan berisi gurauan dalam pelecehan, kelicikan, serta kemunafikan, bukan tontonan yang memperluas wawasan berpikir akan kemajuan. Seolah negeri ini akan dijadikan negeri dengan generasi pelawak yang hanya bisa menertawakan kekurangan orang lain.

Anak-anak muda negeri ini perlu menyadari bahwa negeri ini butuh generasi muda yang handal dan giat belajar. Bukan hanya sibuk memainkan permainan elektronik sepanjang waktu. Bukan hanya bergiat dalam obrolan dan sosialisasi di dunia maya. Dan juga bukan hanya sibuk berfoto selfie.

Mari kita tanya diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa berkarya sebagai anak-anak negeri ini? Bagaimana kita bisa membuat sumberdaya yang berlimpah ini menjadi kekuatan ekonomi dan politik negeri ini? Mari kita berpikir sejenak. Hidup ini tak hanya sekedar gurauan dan permainan.