Tuesday, September 20, 2016

Android Tutorial 2 - Explicit Intent

Sunday, April 24, 2016

Nol Tanpa Satu

Ketika berbagai tanya muncul
Tingkahi kesendirian tanpa jawab
Pikiran terkuras mencari
Meski tetap tak terjawab

Kususun serpihan-serpihan daun
Mungkin bisa bentuk berbagai aksara
Yang menyusun kata-kata
Tuk bisa temukan jawaban

Darah yang mengalir di bulir-bulir otak
Berselancar dengan manis mengalir
Tapi hanya manuver tanpa hasil
Kembali ke siklus awal

Kukumpulkan seribu nol dan satu
Berbagai kombinasi dipasangkan
Beragam permutasi dikalkulasi
Tetap saja nol tanpa satu


Catatan:
Ternyata nyusun silabus itu gak mudah...

* 6 Maret 2011

Antara aku, kau, dan rembulan

Bulan naik seperempat
Kemilaunya emas menyala
Berjalanku bersamamu dalam hening
Berjarak satu hembusan napas
Detak jantung kita seirama
Mainkan melodi romansa
Kucoba tembus khayalmu
Kureka anganmu
Meski tanpa ujaran terucap
Aura kebersamaan menyatu
Beriringan kita membelah malam
Mengiris angin yang menghadang
Rembulan itu seolah betah menemani
Mengiringi jalan pikiran kita
Menghias segala rasa yang ada
Sejenak senyummu membelai tatapku
Membuai bahagiaku
Perlahan bayangmu menjauh
Kembali ke peraduanmu
Senyum itu tertinggal membekas
Jelas...tersimpan dalam tatap dan pikirku
Kuingin melihatnya lagi esok pagi


*15 Oktober 2011

Saturday, November 07, 2015

Tak Ada Ujar dan Tanpa Aksara

Kesejuta tujuh puluh kalinya kubertanya dalam keheningan
Akan sesuatu yang tak juga kumengerti
Ratusan kitab kubuka lembar demi lembar
Milyaran huruf kuteliti satu demi satu

Tuhan..aku hanyalah manusia biasa
Ku tak bisa mendengar jawabMu
Meski berkali-kali aku melontarkan pertanyaan
Setidaknya aku tak mampu menangkap isyarat

Seringkali kutafakur sambil bertanya dalam hati
Diselingi suara lirihku menyebut namaMu
Bertahun-tahun aku bersabar menanti jawaban
Karena aku hanyalah seorang hamba

Kini kulihat sebuah lukisan
Nampak jelas di mataku
Bisa kubaca goresan-goresannya
Kecuali makna di balik itu

Apakah kini aku mesti berhenti bertanya?
Inikah saatnya aku mencegat getar lidahku?
Haruskah kukatupkan bibirku?
Tak ada ujar dan tanpa aksara

Masih bermaknakah tanya itu sekarang?
Apakah lukisan itu sebuah jawaban?
Bantu aku memahami ini
Atau sekedar melupakan

Ingin kumenangis tersedu-sedu
Namun baru kuingat aku tak lagi punya air mata
Baiklah..biar kumenangis dalam hati
Tapi ternyata hatiku pun tlah tiada

Ingin kumelesat bagai elang di malam hari
Menebas-nebaskan sayapku di tepian awan
Kan ku koyak-koyak atmosfir
Melaungkan tanya tak terjawab

Aku pun jatuh bagai bulu elang mengambang
Pelan..perlahan..dan mendarat mulus di atas duri
Entah rasa sakit atau nikmat yang mendera
Lagi-lagi aku tak tahu ini semua apa...

7 November 2011

Monday, August 17, 2015

Selamat Ulang Tahun Indonesiaku


Tujuh puluh tahun sudah Indonesiaku merdeka. Aku sangat bangga menjadi anak negeri ini. Negeri yang memiliki wilayah geografis yang luas dengan ribuan pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Negeri yang kaya akan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang cerdas. Negeri dengan keindahan alam yang tiada tara. Negeri dengan keragaman budaya dan agama terbesar di dunia.

Memang negeriku belumlah menjadi negeri yang sangat makmur, juga bukan negeri adidaya tapi aku tetap bangga. Memang bangsaku bukan bangsa tercerdas,juga bukan bangsa paling jenius tapi aku tahu ada banyak orang cerdas di negeriku. Memang negeriku belum menjadi negeri yang sangat maju, juga bukan negeri yang paling terkemuka tapi negeriku cukup diperhitungkan dunia.

Bangsaku juga bangsa yang menorehkan prestasi tingkat dunia. Nama-nama harum juga tercatat sebagai anak-anak negeri yang berprestasi dan terkemuka. Nama-nama yang membanggakan dengan karya dan pemikirian mereka. Habibie salah satunya.

Meski begitu banyak kebanggaan sebagai anak negeri ini, aku juga prihatin dengan perkembangan yang ada. Anak-anak negeri yang cerdas makin sibuk mengorek perbedaan, membuat resah dalam ketenangan, serta gemar mengungkap aib bangsa sendiri dan bukan malah membantu mencari solusi.

Sungguh menyedihkan melihat bangsa ini disuguhi tontonan yang kebanyakan berisi gurauan dalam pelecehan, kelicikan, serta kemunafikan, bukan tontonan yang memperluas wawasan berpikir akan kemajuan. Seolah negeri ini akan dijadikan negeri dengan generasi pelawak yang hanya bisa menertawakan kekurangan orang lain.

Anak-anak muda negeri ini perlu menyadari bahwa negeri ini butuh generasi muda yang handal dan giat belajar. Bukan hanya sibuk memainkan permainan elektronik sepanjang waktu. Bukan hanya bergiat dalam obrolan dan sosialisasi di dunia maya. Dan juga bukan hanya sibuk berfoto selfie.

Mari kita tanya diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa berkarya sebagai anak-anak negeri ini? Bagaimana kita bisa membuat sumberdaya yang berlimpah ini menjadi kekuatan ekonomi dan politik negeri ini? Mari kita berpikir sejenak. Hidup ini tak hanya sekedar gurauan dan permainan.

Monday, April 21, 2014

Kasih Ibuku

Ibuku cemas ketika kecil aku dipatok ayam. Diobatinya luka-lukaku dengan obat merah dan dibimbingnya aku ke tempat tidurku.Begitu juga ketika aku mengalami kecelakaan-kecelakaan kecil lainnya yang tak dapat kuingat lagi berapa kali karena begitu seringnya. Kenakalan-kenakalan kecilku kerap menyusahkan ibu.

Saat aku susah, aku telepon ibuku cuma untuk mendengar suaranya bicara. Seumur hidupku baru sekali aku mengadukan masalah pada beliau. Aku lebih sering menelannya sendiri. Aku cuma ingin mendengar suaranya bicara dan aku menahan sesak di dada dari jauh. Itulah caraku mengadu saat susah.

Hingga kini, sampai aku telah cukup tua ini, aku tak tahu apa yang mungkin pernah membanggakannya yang telah kulakukan. Aku cuma pernah melihatnya cukup bersemangat saat aku wisuda sarjana dulu. Selain itu aku tak sempat mengamatinya.

Saat-saat ingat ibu, yang sering terkenang di pikiranku adalah bahwa aku lebih sering menyusahkannya daripada membuatnya senang. Begitu banyak pelajaran yang beliau ajarkan, petuah yang diberikan, kasih sayang yang dilimpahkan, serta pengorbanan yang dilakukan. Maafkan aku ibu. Aku belum pernah membanggakanmu.

Friday, April 05, 2013

Aplikasi Android dengan Dukungan Multibahasa

Aplikasi Android yang kita buat, bisa dikembangkan untuk mendukung bahasa-bahasa yang berbeda. Mungkin Anda ingin membuat aplikasi yang bahasa utamanya bahasa Indonesia dan juga mendukung bahasa-bahasa lain sesuai dengan setelan ponsel pengguna. Sebagai contoh, saya sudah siapkan contoh kecil yang bisa jadi dasar pembelajaran untuk Anda memahami bagaimana cara membuatnya.

Lingua merupakan ASS (aplikasi sangat sederhana) yang hanya menampilkan satu TextView dan satu Button yang diadopsi dari aplikasi Hello World yang bisa berganti-ganti bahasa dari bahasa Indonesia, Inggris, Perancis, dan Spanyol. Untuk yang menggunakan emulator Jelly Bean, Anda bisa juga menekan tombol menu pada emulator untuk menampilkan menu Settings yang juga sudah multibahasa.

Silahkan Anda unduh dari tautan (link) di bawah ini dan import ke dalam workspace Anda. Setelah itu jalankan dan ubah-ubah setelan bahasa menjadi bahasa Inggris, Perancis, dan Spanyol. Biasanya di emulator tidak terdapat pilihan bahasa Indonesia, jadi untuk melihat versi bahasa Indonesia, Anda bisa memilih bahasa selain ketiga bahasa tersebut. Karena bahasa Indonesia dijadikan bahasa bawaan, pemilihan bahasa yang tidak didukung akan mengembalikan tampilan ke bahasa bawaan yaitu bahasa Indonesia. Selamat mencoba dan berkreasi!

Source code:
Klik di sini untuk mengunduh


...

Aku Yang Berpaling

Dua setengah tahun, begitu banyak yang sudah kulewati bersamamu. Dari tinggi dan dinginnya gunung sampai ke sungai. Dalam teriknya mentari sampai dinginnya hujan. Melewati indahnya makan malam termanis dalam hidupku sampai suasana terjalnya alam bebas yang mengesankan. Kau temani aku dalam keseharian dari pagi hingga malam bahkan sampai pagi lagi. Begitu setianya kau temani aku dalam berbagai suasana dan keadaan.

Saat aku begitu antusias menjalani pekerjaan, kau dukung aku dengan berbagai kemudahan. Saat aku kehilangan ide, kau beri aku pencerahan. Saat aku sedih dan sepi, kau jadi teman curhatku. Bahkan saat aku terbaring tanpa daya di rumah sakit dan susah tidur, kau temani malam-malam yang menyedihkan itu.

Saturday, March 16, 2013

Teknologi Mengejar Mimpi

Bangun pagi-pagi lihat timeline salah satunya tentang perkembangan teknologi. Lagi-lagi teknologi  sudah melangkah lagi. Sepertinya bukan melangkah tapi berlari.  Baru beberapa waktu lalu mengidam-idamkan sebuah perangkat genggam, sekarang sudah muncul yang lebih baru lagi. Yang lama sudah terasa jauh tertinggal.

Mengikuti teknologi seakan tak ada habisnya. Memang sudah semestinya kemajuan teknologi itu tiada henti bahkan selalu membutuhkan inovasi-inovasi yang bisa meningkatkan kwalitas hidup manusia. Sudah seharusnya demikian.

Masih ingat dulu waktu membeli perangkat komputer 17 tahun lalu dengan harga tertentu. Sekarang dengan harga yang sama spesifikasi prosesornya yang sekarang sudah lebih dari 20 kali lipat dibanding yang itu. Media penyimpanannya sekarang sudah hampir 500 kali lipatnya.

Ponsel pertama yang kubeli cuma bisa menelpon bahkan tidak bisa SMS karena keterbatasan teknologi AMPS kala itu. Dengan harga yang sama, sekarang bisa beli ponsel yang punya berbagai fasilitas canggih.  Meski ponsel kelas bawah tapi sudah memiliki kamera yang lumayan, gps, koneksi HSDPA di samping jenis konektifitas lainnya.

Sembilan tahun lalu saya membayangkan punya perangkat dengan layar besar supaya mudah membaca buku elektronik karena kala itu PDA hanya berlayar 4 inchi lebih sedikit. Sekarang hal itu bukan hal yang aneh dilihat.

Teknologi seolah berlari mengejar mimpi manusia. Tinggallah kemampuan kita membelinya yang juga harus bisa mengejarnya.